Wednesday, November 19, 2008

Waspadai Hemofilia pada Anak

JAKARTA, RABU - Hemofilia atau penyakit gangguan pembekuan darah bawaan bisa menimbulkan kecacatan, bahkan kematian, pada penderitanya jika tidak ditangani dengan baik. Oleh karena itu, gejala-gejala penyakit tersebut harus dikenali sejak dini agar penderita bisa segera mendapat pengobatan sehingga kualitas hidupnya bisa terjaga meski penyakitnya tidak bisa disembuhkan.

Hal itu disampaikan Endang Windiastuti, dokter spesialis anak dari Divisi Hematologi-Onkologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Umum Pusat Cipto Mangunkusumo, dalam diskusi yang diprakarsai Perhimpunan Hematologi dan Transfusi Darah Indonesia (PHTDI), Rabu (19/11), di Jakarta.

Diskusi itu dihadiri sejumlah pakar hematologi-onkologi sebagai pembicara di antaranya dr Aru W Sudoyo, dr Iswari Setianingsih, Prof Karmel L Tambunan, dan Prof Arry Haryanto Resodiputro. "Penyakit gangguan pembekuan darah ini merupakan salah satu masalah kesehatan di Indonesia yang kurang mendapat perhatian serius," kata Ketua Umum Pengurus Pusat PHTDI Djumhana Atmakusuma.

Ada dua tipe hemofilia yaitu hemofilia A (kekurangan faktor antihemofilia atau faktor delapan) dan hemofilia B (kekurangan faktor christimas atau faktor sembilan). Secara epidemiologis, angka kejadian hemofilia A yaitu satu per 10.000 kelahiran bayi lelaki, jauh lebih tinggi dibanding hemofilia B. Jadi, dari 10 juta jiwa penduduk Jakarta diperkirakan ada seribu penderita hemofilia.

"Kurang lebih 80 persen dari penderita hemofilia mempunyai riwayat keluarga mengalami penyakit serupa. Perempuan merupakan pembawa sifat hemofilia," ujar Endang. Penyakit ini ditandai dengan perdarahan spontan dan sukar berhenti yang dapat terjadi di dalam sendi, otot maupun rongga tubuh lain. Hal ini bisa berakibat rasa nyeri dan terganggunya fungsi sendi.

Pada anak-anak, bisa berakibat perdarahan berlanjut, bahkan kematian usia dini. Peristiwa itu dapat diketahui ketika bayi mulai belajar merangkak. Perdarahan bisa terjadi terus-menerus setelah tindakan operasi ringan seperti cabut gigi, sirkumsisi atau sunat. "Lokasi paling sering terkena adalah, lutut, siku pergelangan kaki, bahu dan pergelangan tangan," ujarnya.

"Langkah awal penanganan jika terjadi perdarahan adalah, penderita harus segera beristirahat. Lokasi perdarahan dikompres es, ditekan atau dibebat, dan ditinggikan lokasinya," kata Endang. Kemudian, perdarahan harus diobati dengan faktor pembekuan dalam waktu 2 jam setelah kejadian, vena dijaga dengan baik dan hindari pemakaian obat anti agregasi.

from kompas 19 nevember 2008

Kemunduran Rizal Mallarangeng Realistis

JAKARTA, RABU - Kemunduran calon independen Rizal Mallarangeng dari pertarungan menuju Istana pada tahun 2009 mendatang dinilai sebagai suatu tindakan yang realistis. Itulah tanggapan Fungsionaris Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), Ganjar Pranowo saat dimintai tanggpananya setelah Rizal menyatakan mundur dari pencalonan di akhir acara peluncuran bukunya yang berjudul 'Dari Langit' di Goethehaus Jakarta, Rabu (19/11).

"Kemunduran itu merupakan perhitungan yang sangat realistik," ujar Ganjar yang hadir dalam acara tersebut. Ia membantah kedatangannya ke acara peluncuran buku Rizal ini sebagai bagian dari pendekatan politik PDI-P terhadap Rizal sebagai aternatif langkah politik Rizal berikutnya.

Ganjar mengaku datang sebagai sahabat keluarga Rizal. Ia mengatakan istri Rizal merupakan teman kuliah Ganjar di Yogyakarta. Bahkan, Ganjar mengaku tak menduga bahwa Rizal akan menyatakan pengunduran diri. Namun, Ganjar menyampaikan apresiasi yang sangat besar terhadap upaya Rizal untuk memulai perjalanan politik praktisnya.

"Kalau dia mau memulai lagi lima tahun ke depan, saya akan bilang, Cel (Celi, nama panggilan akrab Rizal), kamu harus masuk politik," tandas Ganjar. Dalam acara peluncuran buku ini, hadir pula sejumlah tokoh, seperti pengamat komunikasi Effendi Gazali, penulis Ayu Utami dan ekonom Chatib Basri.

from kompas 19 November 2008

Orang Tibet Membahas Strategi Baru Perjuangan

Dharamsala, Selasa - Warga Tibet di pengasingan hari Selasa (18/11) bertemu menyiapkan sebuah strategi baru bagi perjuangan melawan penguasaan China. Sementara Beijing kemarin memperingatkan, gerakan apa pun untuk memisahkan Tibet dari China pasti akan gagal.

Lebih dari 500 orang Tibet terkemuka berkumpul di pusat pemerintahan Tibet di pengasingan, di Dharamsala, India utara, memperdebatkan apakah akan mengganti pilihan ”otonomi bermakna” yang dianjurkan Dalai Lama dengan sebuah tuntutan untuk kemerdekaan penuh.

Pertemuan ini setelah warga Tibet di pengasingan frustrasi karena tidak adanya kemajuan dalam perundingan resmi dengan Beijing. Pertemuan ini untuk mencari jalan yang lebih maju.

Sebagian dari pemimpin Tibet itu menuntut agar sikap ”Jalan Tengah” Dalai Lama, yang menganjurkan otonomi yang lebih besar bagi Tibet, digantikan dengan tuntutan untuk kemerdekaan.

”Kalau mayoritas rakyat menawarkan cara yang berbeda dibandingkan dengan yang sekarang (Jalan Tengah), tentunya kami akan dengan senang hati mengikuti itu,” kata Samdhong Rinpoche, Perdana Menteri Tibet di pengasingan, kepada wartawan.

”Kalau parlemen dengan mayoritas membuat keputusan bahwa kami harus memperjuangkan kemerdekaan, tentunya tidak ada cara untuk menghindarinya,” kata Rinpoche.

Sementara itu, China, Selasa, mengeluarkan peringatan guna mencegah perubahan kebijakan. ”Posisi kami mengenai Tibet jelas. Upaya apa pun untuk memisahkan Tibet dari China pasti gagal,” kata Qin Gang, juru bicara Kementerian Luar Negeri China.(AFP/AP/Reuters/DI)

Gencatan Senjata Berakhir

Rabu, 19 November 2008 | 03:00 WIB

Kairo, Kompas - Menteri Luar Negeri Israel yang juga Ketua Partai Kadima Tzipi Livni dalam rapat dengan fraksi Partai Kadima, Senin (17/11) di Jerusalem, menegaskan gencatan senjata antara Israel dan Palestina berakhir. Ia menuduh Hamas sebagai pihak yang bertanggung jawab atas berakhirnya gencatan senjata itu.

Menteri Urusan Keamanan Dalam Negeri Avi Dichter menyerukan agar militer Israel melancarkan serangan besar ke Jalur Gaza untuk menunjukkan kekuatan Israel.

Selasa kemarin tank-tank Israel langsung memasuki bagian selatan Jalur Gaza, yang luasnya tidak lebih besar dari DKI Jakarta. Keberadaan tank-tank itu juga dilengkapi dengan buldoser dan jip-jip militer. Semua kendaraan militer ini merangsek sejauh setengah kilometer ke dalam wilayah Jalur Gaza.

Warga di Jalur Gaza selatan mengatakan tank-tank dan buldoser Israel meratakan lahan di sepanjang perbatasan di sebelah timur kota Rafah. Tank-tank Israel tidak merespons tembakan mortir dan roket dari pihak Palestina.

Untuk meredam penembakan roket dari Jalur Gaza, Israel juga menahan transportasi kargo agar tidak bisa memasok barang kebutuhan warga ke Jalur Gaza.

Kesepakatan gencatan senjata di Jalur Gaza berlangsung selama 6 bulan. Hal itu dicapai antara Israel dan faksi-faksi Palestina, khususnya Hamas, dengan sponsor Mesir, pada 19 Juni dan sedianya berakhir pada 31 Desember 2009.

Salah seorang pemimpin Hamas, Mahmoud Zahar, menyatakan Hamas tetap berkomitmen terhadap gencatan senjata dengan Israel. ”Namun reaksi faksi-faksi Palestina terhadap Israel adalah legal,” lanjutnya.

Zahar mengungkapkan, masalah mengakhiri atau memperbarui kesepakatan gencatan senjata butuh evaluasi komprehensif bersama faksi-faksi Palestina lainnya. Selama faksi-faksi Palestina lainnya punya komitmen terhadap gencatan senjata, Hamas juga akan menyatakan komitmen.

Faktor terowongan

Eskalasi kekerasan di Jalur Gaza dimulai pada 4 November ketika helikopter Israel berhasil menghancurkan terowongan yang digali para aktivis Hamas di Jalur Gaza. Dalam gempuran Israel itu, 12 aktivis Hamas tewas.

Saat itu Israel menuduh bahwa penggalian terowongan tersebut bertujuan sebagai jalan untuk menculik tentara Israel. Pihak Hamas langsung membalas dengan menembakkan puluhan roket ke wilayah Israel.

Harian Israel Haaretz mengungkapkan, sejak kekerasan memuncak pekan lalu, faksi-faksi Palestina telah menembakkan sedikitnya 170 roket dan mortar ke wilayah Israel, dengan 17 aktivis Palestina tewas selama dua pekan terakhir ini.

Di Ramallah, Presiden Palestina Mahmoud Abbas dalam jumpa pers bersama Menteri Luar Negeri Inggris David Miliband juga menekankan pentingnya mempertahankan gencatan senjata dan terus berlanjutnya pemasokan kebutuhan kehidupan pokok penduduk Jalur Gaza.

Presiden mengimbau faksi-faksi Palestina di Jalur Gaza agar menghentikan penembakan roket-roket yang hanya akan membuyarkan gencatan senjata. Miliband juga menyerukan agar Israel dan faksi-faksi Palestina berkomitmen dengan kesepahaman gencatan senjata.

Perdana Menteri Israel Ehud Olmert dan Presiden Palestina Mahmoud Abbas hari Senin bertemu di Jerusalem barat. Dalam pertemuan itu, Abbas menegaskan, otoritas Palestina telah berhasil menegakkan hukum di wilayah Tepi Barat yang ditinggalkan Israel. Peredaran senjata ilegal juga sudah turun.

Abbas juga meminta Israel menghentikan pembangunan permukiman Yahudi di Tepi Barat. Abbas menuduh Israel sebagai pihak yang memulai melanggar kesepakatan gencatan senjata di Jalur Gaza. Abbas meminta Olmert membuktikan komitmen Israel soal gencatan senjata. (mth)

from kompas 19 November 2008